Manusia memang kurang bersyukur, kita lebih memperhatikan apa yang belum kita miiki daripada melihat apa yang sudah kita miliki. Arvan Pradiansyah pernah menyitir dalam salah satu bukunya yang berjudul “ You Are A leader “ bahwa salah satu cara menjadikan kita bahagia adalah memfokuskan pikiran kita terhadap apa yang kita miliki, bukan sebaliknya memikirkan apa yang belum kita dapatkan, Perhatikanlah saat kita berjalan, kalau kita berjalan tentunya kita akan banyak melihat kebawah ( supaya tidak tersandung batu ) dengan sesekali menengok keatas ( Apakah cuaca cukup bersahabat dengan kita ), kadangpula kita melihat lingkungan sekitar kanan, kiri dan depan untuk memastikan jalan yang kita tempuh adalah jalan yang benar, sehingga perjalanan pun menjadi menyenangkan. Bayangakan seandaniya kita berjalan dengan selalu menunduk tanpa menengok keatas atau menongok keatas terusa tanpa merunduk kebawah bagaimana akhir perjalanan kita..?
Filosofi jalan menjadi menarik untuk diperhatikan, hal itu mencerminkan perjalanan hidup manusia. Agar perjalanan hidup kita bisa menyenangkan tentunya setiap sisi kehidupan kita harus seimbang, adakalanya kita mesti melihat ke bawah agar selamat dari kerikil tajam kehidupan, sesekali melihat keatas unutk memastikan bahwa cuaca kehidupan cukup bersahabat, Melihat kanan kiri dan depan berarti mencermati lingkungan sekitar kita.
Saat masih punya handphone tipe lama ( display non warna ), perasaan ingin ganti handphone yang baru sangat ngebu - ngebu , banyak alasan yang berusaha membenarkanya perasaan itu, misalnya : masak kalah sama anak anak handphone nya saja sudah ada kameranya,, masak kalah sama yang tidak kerja handphone nya saja sudah ada infrarednya, blututnya dan banyak fasilitas yang lain, dan masih banyak alasan lain yang intinya membenarkan untuk memutuskan beli handphone baru. Akhirnya ganti handphone pun dilakukan , saat itu aku memilih yang ada infrared, layer warna dan cupup untuk MMS, akhirnya ujung – ujungnya aku hanya manfaatkan untuk SMS dan telpon aja …,
Begitu juga saat aku belum punya Laptop , rasanya pengen banget punya Laptop, bayangannya kalau nanti aku punya Laptop aku akan memanfaatkan waktu sebaik – baiknya supaya lebih produktif dan berharap bisa cari duit tambahan dari aktifitas ketik – mengrtik dengan Laptop, Apalagi setelah mendegar informasi dari internet bahwa kita bisa cari duit lewat internet , seaakn semakin menbenarnya untuk segera memutuskan beli Laptop tanpa memperhatikan kondisi keuangan keluarga saat itu.
Teman – teman , Kadang kita lebih banyak fokus kepada apa yang belum kita miliki daripada fokus pada apa yang kita miliki, sehingga seakan kita menjadi orang yang paling miskin yang tidak punya apa –apa. Mulailah mensyukuri apa yang sudah kita miliki : kesehatan, keluarga yang utuh, pekerjaan tetap dan seribu alasan untuk mensyukuri apa yang anda miliki saat ini, Saat tertentu tengoklah keatas untuk memberi motivasi bahwa
Monday, November 10, 2008
Pengin Punya Laptop
Thursday, November 6, 2008
Penderitaan Orang Pelit
Dikisahkan tentang seorang lelaki berusia 60-an tahun yang menjadi buah bibir di kampungnya. Pasalnya, lelaki paruh baya tersebut terkenal sangat pelit, bahkan untuk makan sehari-hari dan kesehatannya sendiri. Sudah menjadi rahasia umum bahwa dia jarang sekali makan lebih dari sepotong roti setiap hari.
Suatu ketika ia marah habis-habisan kepada istrinya, lantaran istrinya itu membeli seekor ikan untuk lauk mereka makan. “Kamu ini perempuan boros. Aku saja tidak pernah membeli ikan, kok kamu berani-beraninya beli ikan,” bentak lelaki itu uring-uringan.
Si istri yang sabar dan sangat hapal tabiat suaminya itu berusaha membela diri. “Bukan saya yang beli, tetapi tetangga sebelah yang memberikan ikan ini untuk kita,” dalihnya.
“Kalau begitu, potong-potong ikan itu menjadi 7 bagian untuk jatah lauk makan kita selama 7 hari. Kalau mau menggoreng beri garam, tapi sedikit saja nanti garamnya cepat habis,” sahut lelaki itu memberi solusi sekaligus instruksi.
Beberapa hari kemudian, lelaki itu jatuh sakit, badannya demam dan tak mampu beraktifitas seperti biasa. Si istri kasihan melihat kondisi suaminya. Ia bergegas pergi ke sebuah toko obat untuk membeli obat penurun panas.
Ketika si istri menyodorkan obat tersebut, suaminya justru menutup mulut rapat-rapat karena menilai bahwa membeli obat adalah pemborosan besar. “Jangan khawatir, obat ini adalah obat paling murah. Lagipula, di dalam kotak obat ini ada kupon yang bisa ditukar dengan hadiah,” bujuk istrinya sembari memberikan obat. Tetapi suaminya itu tetap mengunci mulutnya.
Tak kurang akal, si istri langsung membisikkan sesuatu di telinga suaminya. “Ehmm, sebenarnya saya tadi bohong. Obat ini sudah kedaluarsa. Jadi toko obat itu memberikannya gratis kepada saya,” bisik istrinya. Barulah setelah itu si lelaki pelit tadi bersedia meminum obat. Setelah minum obat diapun tersenyum, kemudian memuji istrinya pintar.
Pesan:
Harta kekayaan dapat berfungsi sebagai sumber kebahagiaan apabila kita mempunyai kemampuan untuk mendapatkannya sekaligus menggunakannya dengan benar dan tepat. Bila kita kesulitan mencari sumber penghasilan jelas akan mengurangi kualitas kehidupan. Begitupun bila kita tak dapat mengelola keuangan dengan baik maka hal itu akan menjadi sumber petaka dalam kehidupan kita.
Hidup sederhana bukan berarti harus mengurangi kualitas kehidupan, melainkan hidup tidak berlebih-lebihan dan sedapat mungkin memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Sedangkan kisah di atas adalah sebuah fenomena tentang seseorang yang tidak dapat menggunakan kekayaannya dengan baik. Sikapnya tergolong terlalu pelit, sehingga merampas kenikmatan hidup yang seharusnya ia dapatkan.
Charles Spurgeon mengatakan, “Yang penting bukanlah berapa banyak yang kita miliki tetapi berapa banyak yang kita nikmati.” Sebab kekayaan akan mempunyai arti bila kita dapat menikmatinya. Sehingga kalaupun kita ingin mengumpulkan lebih banyak harta kekayaan seharusnya tidak dengan cara bersikap pelit, karena langkah tersebut hanya akan mengurangi kualitas hidupnya. Langkah yang seharusnya ia tempuh adalah menambah sumber penghasilan.
Selain menambah sumber penghasilan, langkah selanjutnya adalah hidup sederhana. Karena di dalam kesederhanaan ada kemuliaan dan ketentraman hati. Berbeda dengan hidup pelit, dimana di dalamnya hanya ada kesusahan karena kekhawatiran berlebih hartanya akan berkurang.
Oleh sebab itu, hindarilah sikap pelit. Upayakan untuk menambah kualitas kehidupan. Manfaatkan harta kekayaan yang kita miliki dengan baik dan tepat, sehingga menjadi sumber kebahagiaan tersendiri
By Andrew Ho
Nilainya Melebihi Satu Milyar Rupiah
By Andrew Ho
Dikisahkan tentang sepasang suami istri yang baru saja menikah. Awalnya kehidupan rumah tangga mereka harmonis. Tetapi tuntutan kebutuhan rumah tangga semakin besar, sementara si istri belum dapat menyiasati sumber penghasilan suaminya yang tak seberapa. Tak ayal si istri menjadi kalang kabut sehingga ia selalu merasa kurang puas.
Buntutnya keadaan tersebut memicu kebiasaan si istri setiap hari selalu mengeluh dan menuntut suaminya memenuhi semua kebutuhan, dari mulai rumah, mobil, dan fasilitas lainnya senilai satu milyar rupiah. Sedangkan sang suami benar-benar dibuat stres. “Bagaimana mungkin? Penghasilanku kan hanya segitu!” guman sang suami. Lebih parah lagi, di tengah tekanan tersebut, ia sama sekali tidak berhasil memberikan pengertian kepada sang istri.
Suatu ketika mereka berdua berkunjung ke rumah sakit menjenguk salah seorang rekan si istri yang tergolek lemah terserang penyakit ganas. Rekan si istri tersebut menceritakan bahwa ia selama ini sering lupa makan, kurang istirahat, dan melakukan pola hidup yang salah. Kejadian itu memberikan seberkas ide bagi sang suami untuk memberikan sedikit pengertian kepada istrinya tercinta.
Dalam perjalanan pulang, sang suami memecah keheningan. Ia bertanya kepada istrinya, “Jika saya memberikan kamu uang 1 milyar, tetapi syaratnya kamu harus sakit seperti temanmu tadi, apakah kamu mau?”
“Tidak!” tukas istrinya.
Dua hari kemudian, mereka berjalan-jalan melewati sebuah bungalow yang sejuk dan cantik. Tak lama kemudian muncul sepasang manula dari bungalow tersebut. “Ini kesempatan aku mengetuk hati istriku,” pikir si suami. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia segera mengajukan sebuah pertanyaan kepada istrinya, “Jika sekarang kamu bisa memiliki sebuah bungalow seperti itu, tapi seketika kamu menjadi tua seperti orang tua tadi, apakah kamu mau?”
“Tidak !” ucap istrinya agak kesal.
Tak lama setelah kejadian tersebut, terjadi perampokan besar di sebuah Bank ternama di kota yang mereka tinggali. Bank tersebut hampir saja menderita kerugian 1 trilyun rupiah, kalau saja aksi perampok tersebut tak berhasil digagalkan. Berita tentang salah seorang perampok mati tertembak dengan cepat tersiar di seluruh kota.
Pasangan suami istri tersebut mendengar tentang berita perampokan Bank dari siaran di televisi. Ketika si istri serius memperhatikan kelanjutan berita perampokan tersebut, si suami tergelitik untuk bertanya kepada istrinya. “Kalau kamu diberi uang satu milyar, tapi kamu mesti menjalani hukuman mati, apakah kamu mau,” celetuk sang suami memecah keheningan.
Kontan sang istri tersulut emosinya. “Omong kosong apa kamu! Diberi bukit emaspun aku tidak mau!” sergahnya kepada sang suami.
Mendengar ucapan istrinya, sang suami tersenyum riang. Ia merasa senang, karena hampir berhasil membawa istrinya pada pemikiran yang benar. “Apakah kamu sekarang sudah menyadari dan merasakan bahwa kita sebenarnya sangat kaya! Kita memiliki kesehatan, masa muda dan nyawa,” kata suaminya.
Ia melanjutkan, “Kekayaan yang sudah aku sebutkan tadi jauh lebih besar dari uang 1 milyar rupiah! Bukankah kita masih memiliki sepasang tangan untuk memperjuangkan masa depan dan nasib kita?”
Kata-kata suaminya benar-benar membuat wanita itu terpaku. Ia baru sadar selama ini sudah bertindak bodoh, karena tidak mensyukuri anugrah yang telah ia nikmati setiap hari, setiap jam, setiap menit dan setiap detik. Sejak saat itu hatinya mulai terbuka pada masukan baru yang positif dan senantiasa memperbaiki diri supaya menjadi istri yang lebih baik.
Pesan :
Berdasarkan kisah diatas kita dapat menilai bahwa manusia sebenarnya memiliki kekayaan yang luar biasa. Kita memiliki tubuh yang sempurna dibandingkan mahkluk Tuhan YME lainnya. Terlebih kita memiliki pikiran yang luar biasa hebatnya dibandingkan dengan komputer yang paling canggih sekalipun.
Tetapi sebagian besar diantara kita sering menyamakan kekayaan manusia dengan hal-hal yang bersifat materi. Sehingga tak jarang diantara mereka menjadi sombong, serakah, tidak jujur, menang sendiri dan lain sebagainya. Kurangnya rasa syukur kepada Tuhan YME atas segala keistimewaan yang kita miliki dapat memicu kita menonjolkan sikap buruk karena tak mampu berpikir jernih, misalnya rasa frustasi yang berkepanjangan, gelisah, sakit fisik, emosional dan bahkan depresi.
Padahal kalau saja kita menukar anggapan kita yang serba materialistis menjadi pola pikir yang serba bersyukur atas anugerah Tuhan YME yang ada di dalam diri kita, maka kita akan lebih mudah berprasangka & berperilaku positif, berkreasi dan menciptakan lahan usaha baru yang lebih produktif dan lain sebagainya. Banyak hal positif di dalam diri kita yang dapat menghasilkan uang dengan mudah.
Segala potensi yang ada di dalam diri kita sangat tinggi nilanya, tak tertandingi dengan materi berapapun juga. Hargai apa yang sudah kita miliki dengan rasa syukur kepada Tuhan YME dan terus berusaha menciptakan karya terbaik.
“Whatever you are, be a good one. – Siapapun diri Anda, jadilah yang terbaik,” ujar Abraham Lincoln, mantan presiden Amerika Serikat yang hidup pada tahun 1809 – 1865. Karena siapapun Anda pasti bisa melakukannya.
www.andrewho-uol.com
